
Persib Bandung resmi dijatuhi sanksi berat oleh Asian Football Confederation (AFC) akibat kericuhan yang terjadi pada ajang AFC Champions League (ACL) 2 musim 2025/2026. Dalam laga melawan Ratchaburi FC tersebut, Maung Bandung dipaksa merogoh kocek hingga Rp3,5 miliar sekaligus harus rela bertanding tanpa dukungan penonton di laga kandang mendatang.
Keputusan pahit ini diumumkan melalui Komite Disiplin dan Etik AFC pada 13 Mei 2026. Persib dinilai gagal memenuhi standar keamanan dan ketertiban internasional saat menjamu wakil Thailand tersebut di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada 18 Februari 2026.
Meskipun dalam laga tersebut Persib berhasil memetik kemenangan 1-0. Namun, hasil ini tetap tidak mampu membawa mereka melaju ke babak perempat final karena kalah secara agregat dari Ratchaburi FC.
Kronologi Persib Bandung Kena Sanksi AFC
Berdasarkan laporan disiplin AFC, kericuhan yang terjadi melibatkan serangkaian pelanggaran serius terhadap Regulasi Komite Disiplin dan Etik AFC Pasal 64 dan 65, serta Regulasi Keselamatan dan Keamanan AFC Pasal 35.
Beberapa poin krusial yang menjadi catatan merah AFC meliputi:
- Penyalaan suar: Penggunaan flare dan kembang api oleh oknum suporter di tribun yang mengganggu jalannya laga.
- Aksi pelemparan dan perusakan: Adanya lemparan benda ke dalam lapangan serta perusakan fasilitas stadion, mulai dari kursi penonton hingga papan iklan.
- Intimidasi verbal: Tindakan tidak terpuji berupa hinaan dan kata-kata kasar yang diarahkan kepada tim lawan serta perangkat pertandingan.
- Kelalaian akses keamanan: Manajemen dianggap lalai karena membiarkan lorong, tangga, dan jalur evakuasi darurat dipadati penonton, yang sangat berisiko bagi keselamatan publik dalam situasi darurat.
Rincian Sanksi Persib Bandung
Akibat akumulasi pelanggaran tersebut, Persib dijatuhi denda sebesar 200 ribu dolar AS atau sekitar Rp3,5 miliar. Selain kerugian finansial, Persib dilarang menggelar laga kandang dengan penonton sebanyak dua kali pada kompetisi AFC berikutnya.
AFC juga menetapkan masa percobaan selama dua tahun. Artinya, jika dalam periode tersebut Persib kembali melakukan pelanggaran serupa, otoritas sepak bola Asia tersebut tidak akan segan menjatuhkan hukuman yang jauh lebih fatal bagi klub.
Baca Juga: PSIM Yogyakarta Bidik Lisensi AFC demi Tampil di Asia 2027/2028
Penyesalan Mendalam Manajemen Persib Bandung
Manajemen Persib Bandung dalam pernyataan resminya menyatakan tetap menghormati keputusan AFC meski merasa sangat dirugikan. Persib menyayangkan dana sebesar Rp3,5 miliar yang seharusnya bisa digunakan untuk pengembangan fasilitas, pembinaan pemain muda, hingga memperkuat daya saing klub di level Asia.
Pihak klub juga menilai tindakan segelintir oknum suporter telah memberikan dampak besar terhadap reputasi Persib yang sedang berusaha membangun citra positif di kompetisi internasional. Persib menegaskan bahwa kerugian akibat sanksi ini tidak hanya dirasakan oleh klub, tetapi juga oleh jutaan Bobotoh yang selama ini mendukung secara tertib dan bertanggung jawab.
“Sangat disayangkan tindakan segelintir oknum yang dampaknya harus dipikul oleh seluruh klub dan jutaan Bobotoh lainnya. Ini adalah kerugian reputasi yang sangat besar bagi kami yang sedang berjuang membawa nama Indonesia di Asia,” tulis pernyataan resmi Persib.
Prestasi Persib Bandung di Asia Tetap Patut Diapresiasi
Ironisnya, sanksi ini datang saat performa Persib di bawah asuhan Bojan Hodak sedang menunjukkan perkembangan positif. Keberhasilan menembus babak 16 besar ACL 2 menjadi bukti bahwa kualitas Maung Bandung mampu bersaing di level Asia.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh suporter sepak bola Indonesia bahwa dukungan fanatik harus tetap dibarengi dengan kepatuhan terhadap regulasi pertandingan. Sebab, tindakan emosional dalam waktu singkat dapat membawa dampak panjang terhadap masa depan klub yang sedang berjuang mengharumkan nama Indonesia di kompetisi internasional.








Semoga cepet selesai 😭