
Arema FC tengah menghadapi periode krusial di kompetisi BRI Super League 2025/2026. Setelah menunjukkan performa yang menjanjikan di awal musim hingga sempat bersaing di papan atas.
Tim berjuluk Singo Edan ini mengalami penurunan performa yang signifikan. Situasi ini memaksa manajemen dan jajaran pelatih untuk memutar otak demi mengembalikan semangat dan konsistensi permainan tim.
Dalam tiga pertandingan terakhir, Arema FC hanya berhasil mengamankan satu poin, sebuah hasil yang membuat mereka tergelincir ke posisi ke-10 klasemen sementara. Dengan koleksi 9 poin dari tujuh laga yang telah dijalani, posisi ini tentu bukanlah cerminan dari target yang dicanangkan di awal musim.
Sebagai respons atas kondisi ini, sebuah keputusan tak biasa diambil, yaitu memberikan para pemain “bonus” berupa libur latihan selama satu pekan penuh. Langkah ini diharapkan dapat menjadi momen penyegaran, baik secara fisik maupun mental, bagi seluruh skuad Arema FC.
Jeda Kompetisi Sebagai Momen Evaluasi Arema FC
Keputusan untuk meliburkan tim selama sepekan penuh diambil di tengah jeda kompetisi akibat agenda internasional Timnas Indonesia. General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menegaskan bahwa jeda ini harus dimanfaatkan secara bijak untuk melakukan evaluasi mendalam.
Menurutnya, setelah masa libur usai, masih ada waktu yang cukup untuk melakukan persiapan intensif demi memperbaiki segala kekurangan yang ada. Meskipun libur panjang di tengah musim kompetisi memiliki risiko penurunan tingkat kebugaran pemain, tim pelatih Arema FC menaruh kepercayaan penuh kepada para punggawanya.
Asisten pelatih, Kuncoro, menyatakan keyakinannya bahwa para pemain akan menjaga kondisi fisik mereka secara mandiri. “Pemain sudah profesional dan tahu apa yang dibutuhkan untuk menjaga kondisi. Kami percaya mereka tetap berlatih sendiri di rumah,” ujarnya.
Momen liburan ini dimanfaatkan oleh para pemain untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga. Bek kanan Rifad Marasabessy pulang ke Tulehu, sementara para pemain asing seperti Lucas Frigeri dan Ian Puleio memilih Bali sebagai destinasi liburan mereka.
Kuncoro menambahkan bahwa kembali bersama keluarga biasanya memberikan dampak positif pada kondisi mental pemain, membuat mereka lebih segar saat kembali berlatih. Skuad Arema FC dijadwalkan akan kembali menggelar latihan pada 6 Oktober di Malang untuk mempersiapkan laga berikutnya.
Baca Juga: Mihailo Perovic: Adaptasi Sulit & Janji Bangkit di Persebaya
Sorotan Performa: Belum Terkalahkan di Laga Tandang
Di tengah inkonsistensi yang melanda, Arema FC memiliki satu catatan statistik yang cukup menarik musim ini. Tim Singo Edan tercatat belum pernah menelan kekalahan sekalipun dalam tiga laga tandang yang telah mereka jalani.
Ketiga pertandingan di markas lawan, yakni melawan PSIM Yogyakarta, Persijap Jepara, dan Persis Solo, semuanya berakhir dengan skor imbang. Catatan ini menjadi sebuah anomali, mengingat performa Arema FC justru antiklimaks saat bermain di hadapan pendukungnya sendiri.
Ironisnya, dua kekalahan yang diderita musim ini terjadi saat mereka bermain di kandang, yaitu ketika melawan Dewa United dan Persib Bandung. Fakta ini menunjukkan bahwa stabilitas permainan masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi tim pelatih Arema FC musim ini.
Pelatih kepala Marcos Santos sempat menyoroti beberapa keputusan wasit yang dianggap merugikan timnya dalam dua laga terakhir. Namun, pelatih asal Brasil tersebut enggan menjadikan hal itu sebagai alasan utama dan memilih untuk fokus pada perbaikan aspek teknis dan taktis permainan tim. Evaluasi internal telah dilakukan untuk membenahi setiap lini.
Evaluasi Lini Pertahanan dan Ketergantungan pada Striker
Salah satu fokus utama evaluasi yang dilakukan tim pelatih Arema FC adalah lini pertahanan. Hingga pekan ketujuh, gawang Singo Edan telah kebobolan sebanyak sembilan kali. Angka ini menjadi sinyal bahwa koordinasi dan soliditas di barisan belakang perlu segera ditingkatkan agar tidak menjadi titik lemah yang terus dieksploitasi lawan.
“Kami sudah mengidentifikasi beberapa area yang harus diperbaiki, terutama di sektor pertahanan,” ujar Marcos Santos.
Selain masalah di lini belakang, ada perhatian khusus yang ditujukan pada sektor penyerangan. Arema FC dinilai terlalu bergantung pada ketajaman striker andalan mereka, Dalberto Luan. Penyerang asal Brasil ini tampil sangat impresif dengan mencetak delapan gol sejauh ini, menjadikannya top skor sementara klub.
Namun, ketergantungan ini menjadi pedang bermata dua. Ketika alur serangan dan suplai bola kepada Dalberto berhasil dimatikan oleh lawan, lini depan Arema FC seolah kehilangan kreativitas dan kesulitan untuk menciptakan peluang berbahaya. Tim pelatih kini dituntut untuk mencari solusi agar pemain lain juga bisa memberikan kontribusi gol dan serangan tim menjadi lebih variatif.
Dengan waktu istirahat yang cukup dan evaluasi yang komprehensif, harapan besar disematkan di pundak Arema FC untuk bisa kembali ke performa terbaiknya. Laga melawan PSM Makassar pada 19 Oktober mendatang akan menjadi pembuktian pertama apakah strategi jeda ini berhasil.
Kemenangan dalam laga tersebut tidak hanya akan mendongkrak posisi di klasemen, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri skuad Arema FC untuk kembali bersaing di papan atas.








