
Timnas U-22 Indonesia kedatangan tiga wajah baru dalam sesi latihan di Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Mereka bukan pemain sembarangan, melainkan adalah tiga talenta diaspora yang selama ini berkarier di luar negeri.
Meraka datang dengan semangat tinggi untuk membuktikan diri di hadapan pelatih Indra Sjafri. Menariknya, kedatangan mereka bukan hasil pemanggilan resmi.
Ketiganya datang atas inisiatif pribadi, berharap bisa mencuri perhatian tim pelatih dan memperkuat peluang tampil di SEA Games 2025 Thailand.
Tiga Wajah Baru dari Luar Negeri
Tiga pemain diaspora ini datang dari dua kompetisi berbeda, yakni Yunani dan Filipina, dan kini mendapat kesempatan unjuk kemampuan dalam pemusatan latihan di Stadion Madya GBK.
Mereka bukan bagian dari 30 pemain resmi yang dipanggil Indra Sjafri, tetapi kehadirannya memberi warna baru dalam seleksi Garuda Muda.
Berikut profil dan kiprah terkini ketiganya.
1. Luke Xavier Keet
Luke Xavier Keet menjadi sosok paling disorot di antara tiga pemain diaspora baru ini.
Pemain berposisi winger kiri tersebut lahir di Jakarta pada 28 Juli 2003 dan memiliki tinggi 181 cm.
Saat ini, Luke memperkuat GS Ilioupolis, klub yang bermain di kasta kedua Liga Yunani (Super League 2). Ia baru bergabung pada September 2025 dengan kontrak hingga Juni 2026.
Dalam sesi latihan perdana bersama Timnas U-22, Luke terlihat cepat beradaptasi dengan atmosfer latihan dan gaya bermain tim.
Ia sempat mengakui bahwa kondisi cuaca dan kelembapan di Indonesia menjadi tantangan tersendiri setelah terbiasa bermain di Eropa.
Selain kecepatan dan kemampuan 1 lawan 1, Luke dikenal punya visi permainan bagus serta kemampuan melepas umpan silang presisi.
2. Reycredo Beremanda Bukit
Nama Reycredo Beremanda Bukit mungkin belum akrab di telinga publik, tapi kiprahnya di luar negeri cukup menarik.
Pemain kelahiran 27 Januari 2004 ini berposisi sebagai winger kiri dan memiliki tinggi 170 cm.
Reycredo saat ini memperkuat Aguilas-UMak FC di Liga Filipina (Philippines Football League).
Ia bergabung pada Juli 2025 dengan status pinjaman dari Nusantara United, klub Liga 2 Indonesia.
Di Filipina, Reycredo mulai menunjukkan kontribusi positif lewat kecepatan dan determinasi di sisi sayap. Performanya tersebut membuatnya dilirik untuk ikut seleksi di Timnas U-22.
Kehadirannya memberi sinyal bahwa pemain muda Indonesia yang berkarier di luar negeri kini mulai diperhitungkan kembali oleh pelatih Indra Sjafri.
3. Muhammad Mishbah
Satu lagi nama baru yang juga datang dari Liga Filipina adalah Muhammad Mishbah.
Ia merupakan rekan setim Reycredo di Aguilas-UMak dan berposisi sebagai pemain serbaguna di lini depan.
Meski data lengkap soal usia dan rekam kariernya belum banyak dipublikasikan, Mishbah disebut sebagai pemain yang memiliki kecepatan dan kemampuan beradaptasi tinggi.
Dalam sejumlah laga terakhir di Filipina, ia mulai mendapat menit bermain lebih dan menunjukkan kontribusi positif.
Keikutsertaannya dalam latihan Timnas U-22 menjadi bukti bahwa staf pelatih memberi ruang bagi pemain-pemain yang meniti karier di luar negeri untuk bersaing secara fair.
Potensi Mishbah untuk menembus skuad utama akan bergantung pada konsistensi dan kemampuan beradaptasinya selama masa seleksi.
Baca juga: Bukan Main! Mali Bawa Gelandang MU untuk Lawan Timnas U-22 Indonesia
Bukan Pemanggilan Resmi, Tapi Inisiatif Pribadi
Ketua Badan Tim Nasional (BTN) sekaligus manajer Timnas U-22, Sumardji, menegaskan bahwa kehadiran tiga pemain ini murni karena keinginan mereka sendiri untuk mengikuti seleksi.
“Coach Indra Sjafri tidak memanggil secara langsung dan saya juga tidak memanggil. Tetapi karena ada keinginan mereka untuk ikut, kami berikan kesempatan,” ujar Sumardji di sela latihan.
Menurutnya, kesempatan ini bukan sekadar formalitas. Ketiga pemain akan dinilai berdasarkan performa mereka selama latihan dan uji coba.
Jika tak memenuhi ekspektasi, mereka tidak akan dipanggil lagi ke tahap berikutnya.
Indra Sjafri: Mereka Sudah WNI, Tak Butuh Naturalisasi
Pelatih Indra Sjafri menegaskan bahwa ketiga pemain diaspora ini sudah memiliki KTP Indonesia, sehingga tidak memerlukan proses naturalisasi.
Ia juga menjelaskan bahwa pemantauan terhadap mereka sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, namun baru bisa terealisasi kali ini.
“Kami pernah diminta melihat langsung ke sana, tapi belum sempat. Jadi sekarang kami beri kesempatan agar bisa memastikan kemampuan mereka. Jadi pemain tim nasional adalah hak dan kewajiban setiap warga negara,” ujar Indra.
Keputusan ini menunjukkan konsistensi Indra Sjafri dalam membuka peluang bagi semua pemain berstatus WNI, baik yang berkarier di dalam maupun luar negeri.
Uji Coba Lawan Mali Jadi Ajang Pembuktian
Pemusatan latihan kali ini juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi dua laga uji coba internasional melawan Mali U-22.
Pertandingan tersebut akan digelar di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, pada 15 dan 18 November 2025.
Dua laga ini akan menjadi panggung penting bagi tiga pemain diaspora untuk menunjukkan kemampuan mereka secara langsung di hadapan publik.
Jika mampu tampil menonjol, peluang masuk ke daftar 23 pemain yang akan dibawa ke SEA Games 2025 terbuka lebar.
Baca juga: Profil Mike Rajasa, Kiper Masa Depan Timnas Indonesia U-17 Berdarah Mamasa
Peluang dan Tantangan yang Harus Dihadapi
Jalan menuju skuad utama tidak mudah. Ketiga pemain diaspora ini harus bersaing dengan pemain-pemain muda terbaik tanah air yang sudah lebih dulu mengikuti pemusatan latihan.
Selain adaptasi dengan cuaca dan ritme latihan yang intens, mereka juga harus cepat memahami gaya bermain yang diterapkan Indra Sjafri.
Waktu seleksi pun tidak panjang, setiap sesi latihan dan laga uji coba akan jadi penilaian krusial. Sumardji menegaskan kembali bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pelatih.
“Kalau hasil uji coba tidak sesuai harapan, maka kami tidak akan memanggil mereka,” tegasnya.
Lapangan Stadion Madya sore itu menjadi saksi dari ketiga pemain diaspora yang datang tanpa undangan resmi, berlari dengan ambisi yang sama untuk mengenakan lambang Garuda di dada.








