Beranda Analisa Kontroversi Ahmed Al-Ali: Diselamatkan oleh Teknologi VAR?

Kontroversi Ahmed Al-Ali: Diselamatkan oleh Teknologi VAR?

25
0
Ahmed Al-Ali

Kinerja wasit Ahmed Al-Ali menjadi perbincangan hangat setelah memimpin laga krusial antara Timnas Indonesia dan Arab Saudi dalam putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.

Dalam pertandingan yang berlangsung sengit di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, pada Kamis (9/10/2025) dini hari WIB, kepemimpinan wasit asal Kuwait ini menuai kritik tajam dari seorang analis berpengalaman. Meskipun laga berakhir dengan kemenangan 3-2 untuk tuan rumah dan terbebas dari kesalahan fatal.

Hal itu justru terjadi berkat bantuan teknologi, bukan karena ketajaman mata sang wasit di lapangan. Sosok Ahmed Al-Ali dinilai beruntung karena Video Assistant Referee (VAR) bekerja optimal untuk menutupi beberapa kesalahan penilaian teknisnya.

Latar Belakang dan Sorotan Kinerja Ahmed Al-Ali

Pertandingan antara Indonesia dan Arab Saudi merupakan laga dengan tensi tinggi yang menuntut konsentrasi penuh dari semua perangkat pertandingan, terutama wasit. Sebagai pengadil utama, Ahmed Al-Ali diharapkan mampu membuat keputusan yang cepat dan akurat.

Namun, yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Menurut mantan wasit FIFA asal Mesir, Mohamed Kala Reesha, ada beberapa momen krusial di mana Ahmed Al-Ali gagal mendeteksi pelanggaran yang sebenarnya cukup jelas, terutama dalam tiga insiden yang berujung pada hadiah penalti.

Reesha mengakui bahwa secara fisik, Ahmed Al-Ali memiliki kebugaran dan pergerakan yang baik di lapangan. Namun, keunggulan fisik tersebut tidak diimbangi dengan penilaian teknis yang mumpuni. “Wasit memiliki kebugaran fisik yang tinggi dan pergerakannya yang baik, tetapi ia tidak dapat mendeteksi pelanggaran dalam tiga penalti tersebut,” ujar Reesha.

Ia menegaskan bahwa teknologi VAR-lah yang pada akhirnya membimbing sang wasit untuk mengambil keputusan yang benar, karena pelanggaran yang terjadi tergolong jelas. Ketergantungan ini memicu pertanyaan besar mengenai kualitas dan kesiapan Ahmed Al-Ali dalam memimpin laga sepenting ini.

Baca Juga: Sorotan Patrick Kluivert: Persiapan Mepet Timnas Garuda

Tiga Insiden Penalti yang Membutuhkan Bantuan VAR

Kritik utama terhadap Ahmed Al-Ali terfokus pada tiga momen penalti yang semuanya harus dikonfirmasi melalui tinjauan VAR. Ketiga insiden ini menjadi bukti nyata bagaimana sang wasit melewatkan pelanggaran vital dalam pertandingan.

Sebelum masuk ke detail setiap insiden, perlu digarisbawahi bahwa laga ini menghasilkan dua penalti untuk Timnas Indonesia dan satu untuk Arab Saudi. Menurut analisis Reesha, ketiga kejadian tersebut seharusnya bisa langsung diputuskan oleh wasit tanpa perlu intervensi panjang dari ruang VAR.

Insiden Pertama: Handball Hassan Al-Tambakti

Momen krusial pertama terjadi ketika pemain Arab Saudi, Hassan Al-Tambakti, kedapatan melakukan handball di dalam kotak terlarang. Dalam tayangan ulang, terlihat jelas bola menyentuh tangannya.

Namun, Ahmed Al-Ali pada awalnya tidak melihat insiden ini sebagai sebuah pelanggaran. Permainan sempat berlanjut sesaat sebelum akhirnya VAR memberikan sinyal untuk melakukan peninjauan. Setelah melihat monitor, barulah Ahmed Al-Ali menunjuk titik putih untuk Indonesia.

Insiden Kedua: Tarikan Baju Yakob Sayuri

Berikutnya, giliran Arab Saudi yang mendapatkan hadiah penalti. Insiden ini melibatkan Yakob Sayuri yang terlihat menarik kaus pemain Arab Saudi hingga terjatuh di kotak penalti.

Sama seperti insiden pertama, pelanggaran ini luput dari pengamatan langsung Ahmed Al-Ali. Lagi-lagi, VAR harus turun tangan untuk merekomendasikan peninjauan ulang, yang kemudian mengubah keputusan awal dan memberikan penalti bagi tuan rumah.

Insiden Ketiga: Handball Nawaf Bushal dan Kartu yang Terlewat

Penalti ketiga diberikan kembali kepada Timnas Indonesia setelah pemain Arab Saudi, Nawaf Bushal, melakukan handball di area penalti. Reesha menyatakan bahwa insiden ini juga sangat jelas dan seharusnya bisa langsung dilihat oleh wasit.

Namun, yang lebih disorot dari insiden ini adalah kelalaian Ahmed Al-Ali dalam menerapkan hukuman disipliner. Menurut Reesha, Nawaf Bushal seharusnya mendapatkan kartu kuning karena pelanggarannya dianggap “Menghilangkan peluang lawan untuk mencetak gol”.

Sayangnya, kartu tersebut tidak pernah keluar dari saku wasit, sebuah kesalahan penilaian lain yang untungnya tidak terlalu memengaruhi hasil akhir.

Satu Keputusan Tepat di Momen Krusial

Di tengah kritik tajam atas performanya, ada satu keputusan besar yang diambil Ahmed Al-Ali dan dinilai sudah sangat tepat oleh analis. Keputusan tersebut adalah kartu merah yang diberikan kepada gelandang tuan rumah, Mohamed Kanno, meskipun ia baru bermain kurang dari lima menit.

Kanno menerima kartu kuning pertamanya karena dianggap sengaja mengulur-ulur waktu saat pertandingan akan dimulai kembali. Tak terima dengan keputusan tersebut, Kanno melancarkan protes dengan cara yang dinilai tidak sportif. Tanpa ragu, Ahmed Al-Ali langsung mencabut kartu kuning kedua yang berujung kartu merah. Menurut Reesha, tindakan tegas ini sudah benar.

“Beberapa wasit menolak untuk mengizinkan perilaku seperti itu, tetapi Al-Ali justru melakukannya dan memberikan kartu merah yang valid,” puji Reesha. Momen ini menunjukkan sisi lain dari kepemimpinan Ahmed Al-Ali yang bisa bersikap tegas terhadap perilaku tidak sportif.

Secara keseluruhan, laga ini menjadi panggung yang menunjukkan dua sisi mata uang dari perwasitan modern. Di satu sisi, kepemimpinan Ahmed Al-Ali dipertanyakan karena ketergantungan masif pada VAR.

Namun di sisi lain, teknologi itu sendiri berhasil memastikan keadilan dan keputusan akhir yang akurat, menyelamatkan laga dari potensi kontroversi yang lebih besar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!