
Tekanan besar menyelimuti skuad Persis Solo. Terjebak di zona degradasi dengan 12 pertandingan tanpa kemenangan, masa jeda Liga BRI Super League 2025/2026 menjadi peluang emas, sekaligus kesempatan terakhir bagi Laskar Sambernyawa untuk melakukan perbaikan fundamental. Klub asal Kota Bengawan ini langsung tancap gas latihan sejak Sabtu (6/12) untuk memperbaiki tiga masalah utama, yaitu fisik, taktik, dan konsentrasi pemain.
Dalam situasi krisis ini, caretaker Tithan Wulung Suryata bersama tim bertekad memaksimalkan setiap sesi latihan di masa jeda liga. Persis harus benar-benar siap sebelum menjalani dua laga tandang berat yang menanti bulan ini, yakni menghadapi Dewa United (20/12) dan Persik Kediri (27/12).
Fokus pada Organisasi Tim dan Latihan Fisik
Bagi tim pelatih, masa jeda liga bukan sekadar waktu istirahat, melainkan kesempatan untuk membangun ulang kekuatan tim. Program latihan diarahkan pada peningkatan fisik, pendalaman taktik, serta penguasaan bola di berbagai situasi permainan.
Tithan menegaskan bahwa tim bekerja keras memperbaiki struktur permainan yang seringkali terlihat berantakan saat transisi.
“Fokus kita lebih kepada pembenahan secara fisik, serta organisasi secara tim baik saat menyerang, bertahan maupun transisi,” ujar Tithan, dikutip dari akun resmi Persis Solo.
Kebugaran fisik menjadi fondasi penting untuk menunjang strategi permainan selama menit-menit akhir. Terlihat bahwa daya tahan beberapa pemain seringkali menurun di babak kedua, sehingga berdampak langsung pada performa tim. Oleh karena itu, peningkatan stamina dilakukan secara intensif agar seluruh pemain benar-benar siap tempur.
Pembenahan organisasi permainan juga dilakukan untuk meningkatkan koordinasi antar lini. Dengan struktur tim yang lebih rapi, Persis diharapkan mampu menutup ruang, memperbaiki alur serangan, dan tampil lebih stabil saat menghadapi tekanan lawan.
Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi
Di antara berbagai masalah yang dihadapi Persis, konsentrasi menjadi aspek yang paling merugikan. Tim sering kehilangan fokus di menit-menit krusial sehingga gagal mempertahankan keunggulan. Kekalahan 3-4 dari PSM Makassar menjadi contoh paling menyakitkan, di mana Persis sempat memimpin 2-0, tetapi tetap takluk. Hal serupa juga terjadi saat melawan Persebaya Surabaya, di mana keunggulan 1-0 berubah menjadi kekalahan 1-2.
Oleh karena itu, Tithan menegaskan bahwa fokus dan konsentrasi para pemain harus lebih kuat.
“Konsentrasi dan fokus para pemain harus lebih kuat. Terutama bagaimana kami harus bisa menjaga permainan di saat kami dalam keadaan unggul,” tegasnya.
Selama masa jeda liga, para pemain tidak hanya ditempa dengan latihan fisik dan taktik, tetapi juga diberi pelatihan mental untuk meningkatkan kestabilan psikologis. Tujuannya agar mereka tetap tenang dan disiplin saat menghadapi tekanan, terutama di fase akhir pertandingan.
Baca juga: Noda Sejarah Hasil Indonesia vs Filipina 0–1 di SEA Games 2025
Kondisi Skuad Persis Solo
Di balik situasi sulit, Tithan memastikan seluruh pemain berada dalam kondisi fit dan siap mengikuti program latihan intensif.
“Terlihat di hari pertama tidak ada pemain yang cedera saat latihan, dan masih kita pantau bagaimana kebugaran pemain di minggu pertama masa jeda liga ini,” ujarnya.
Kondisi skuad yang sehat memungkinkan pelatih melakukan eksperimen taktik dan menentukan komposisi terbaik. Hal ini sangat penting mengingat Persis akan menghadapi pertandingan berat melawan Dewa United yang menuntut ketajaman fisik serta disiplin tinggi.
Perbaiki Tren Negatif
Hingga pekan ke-14, Persis Solo baru mengumpulkan tujuh poin dari satu kemenangan dan empat hasil imbang, sementara delapan laga lainnya berakhir dengan kekalahan. Kemenangan terakhir mereka terjadi pada pekan pertama saat menghadapi Madura United (2-1).
Dengan situasi ini, dua laga tandang di bulan Desember menjadi penentu untuk memperbaiki posisi di klasemen sekaligus memutus tren negatif yang panjang. Hasil positif sangat dibutuhkan untuk memulihkan mental pemain dan menjauh dari ancaman degradasi.
Persis Solo bertekad menjadikan masa jeda liga sebagai momentum kebangkitan. Pembenahan fisik, taktik, dan konsentrasi diharapkan mampu membawa Laskar Sambernyawa kembali meraih tiga poin dan keluar dari periode sulit yang mereka alami.







