
PSBS Biak resmi terdegradasi dari Super League 2025/2026 setelah kalah telak 0-4 dari Persebaya Surabaya pada pekan ke-31. Hasil ini menjadi pukulan berat bagi tim berjuluk Badai Pasifik yang harus mengubur harapan bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (2/5/2026) malam, menjadi penentu nasib PSBS Biak. Kekalahan tersebut memastikan mereka turun ke kasta kedua (Championship) pada musim depan.
Jalannya pertandingan Persebaya Surabaya vs PSBS Biak
Sejak menit awal, Persebaya Surabaya tampil dominan dengan menguasai jalannya laga. Skema permainan cepat dengan umpan-umpan pendek membuat lini pertahanan PSBS terus berada dalam tekanan.
Peluang pertama hadir dari Milos Raickovic pada menit keenam, namun tendangannya masih melebar. Tekanan berlanjut melalui aksi Gali Freitas, Mihailo Perovic, dan Toni Firmansyah, tetapi hingga babak pertama usai skor tetap 0-0.
PSBS sesekali mencoba mengancam lewat serangan balik. Peluang emas didapat pada menit ke-30 melalui Hassan Nader, namun kiper Persebaya, Andhika Ramadhani, tampil sigap untuk menggagalkan peluang tersebut.
Memasuki babak kedua, intensitas serangan Persebaya meningkat. Gol pembuka akhirnya tercipta pada menit ke-53 melalui tendangan keras Milos Raickovic dari luar kotak penalti.
Raickovic kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-66 setelah memanfaatkan umpan dari Malik Risaldi, membawa Persebaya unggul 2-0.
Keunggulan tersebut membuat Bajul Ijo semakin percaya diri. Francisco Rivera kemudian menambah dua gol pada menit ke-75 dan 81, memastikan kemenangan telak 4-0 bagi Bajol Ijo.
PSBS Biak Tak Mampu Bangkit hingga Menit Akhir
Setelah kebobolan, PSBS terlihat kehilangan kepercayaan diri. Koordinasi lini belakang mulai goyah, sementara lini depan kesulitan menciptakan peluang berbahaya.
Kesempatan terbaik untuk memperkecil ketertinggalan datang pada menit ke-85 melalui Raja Siregar. Namun, tendangannya hanya membentur mistar gawang. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 4-0 tetap bertahan, memastikan tiga poin bagi Persebaya sekaligus mengirim PSBS ke jurang degradasi.
Hasil ini menunjukkan perbedaan kualitas yang cukup mencolok antara kedua tim. Persebaya tampil efektif dan disiplin, sementara PSBS gagal memaksimalkan peluang yang dimiliki.
Hitung-hitungan Klasemen yang Menyakitkan
Secara matematis, kekalahan ini menutup rapat peluang PSBS Biak untuk keluar dari zona merah. Hingga pekan ke-31, PSBS masih terdampar di posisi juru kunci klasemen sementara dengan hanya mengoleksi 18 poin.
Dengan liga yang hanya menyisakan tiga pertandingan lagi, poin maksimal yang bisa dikumpulkan Badai Pasifik hanyalah 27 poin. Angka tersebut sudah tidak mungkin lagi mengejar Madura United yang berada di peringkat ke-15 zona aman dengan koleksi 29 poin.
Baca Juga: Malut United Pesta Gol 7-0 Gilas PSBS Biak Tanpa Balas
Krisis Internal dan Isu Gaji Jadi Penyebab Keterpurukan
Keterpurukan PSBS musim ini tidak hanya disebabkan faktor teknis di lapangan. Tim ini juga dilanda masalah internal yang cukup serius, termasuk isu tunggakan gaji pemain.
Situasi tersebut diyakini berdampak besar terhadap mental dan performa tim. Dalam beberapa pertandingan terakhir, PSBS bahkan mencatatkan sembilan kekalahan beruntun.
Dilansir Detik.com, pelatih interim PSBS Biak, Kahudi Wahyu, mengungkapkan kekecewaannya usai laga. Ia menyoroti kondisi mental pemain yang dipengaruhi oleh situasi di luar lapangan.
“Pemain Persebaya nampak berada di atas kami. Sebetulnya kami tidak kalah, tapi Anda tahu sendiri, fisik sangat dipengaruhi oleh mental. Anak-anak sudah berjuang luar biasa, tapi manajemen masih saja tutup mata,” ujar Kahudi Wahyu.
Menatap Musim Depan
PSBS Biak kini harus segera berbenah untuk menghadapi kompetisi kasta kedua musim depan. Meski terdegradasi, semangat juang para pemain tetap layak diapresiasi. Dalam kondisi sulit, mereka tetap berusaha memberikan perlawanan di setiap pertandingan.
Saat ini, PSBS Biak masih menyisakan tiga pertandingan melawan Dewa United, Arema FC, dan Bhayangkara FC. Tiga laga tersebut menjadi kesempatan terakhir di Super League untuk menutup musim dengan hasil yang lebih baik.







