Beranda Liga Indonesia Viral Tendangan Kungfu Liga 4 Jatim, Pemain Perseta Berakhir di RS

Viral Tendangan Kungfu Liga 4 Jatim, Pemain Perseta Berakhir di RS

28
0
Liga 4 Jatim

Sepak bola seharusnya menjadi ruang adu taktik, mental, dan kemampuan teknik. Namun pada laga Liga 4 Jatim antara Putra Jaya Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung, Senin 5 Januari 2026, sebuah insiden justru menggeser fokus pertandingan ke arah yang sama sekali tidak diharapkan.

Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bangkalan, Madura itu berubah menjadi sorotan nasional setelah aksi tak terpuji seorang pemain Putra Jaya viral di media sosial. Momen tersebut dikenal publik sebagai insiden “tendangan kungfu Liga 4 Jatim”.

Kronologi Kejadian di Menit ke-71

Laga berjalan dalam tempo tinggi sejak awal. Perseta Tulungagung tampil dominan dan sudah unggul jauh ketika pertandingan memasuki menit ke-71. Dalam situasi tertinggal telak, emosi pemain Putra Jaya terlihat mulai tak terkendali.

Pada sebuah duel di area tengah lapangan, Muhammad Hilmi, pemain Putra Jaya, secara mengejutkan melayangkan tendangan tinggi ke arah dada Firman Nugraha, gelandang Perseta. Gerakan tersebut menyerupai teknik bela diri, bukan upaya merebut bola.

Firman langsung terjatuh dan memegangi dadanya sambil meringis kesakitan. Suasana stadion mendadak hening sebelum berubah tegang. Beberapa pemain Perseta menghampiri Hilmi, sementara wasit bergegas menghentikan pertandingan.

Tanpa banyak pertimbangan, wasit mengeluarkan kartu merah langsung kepada Hilmi. Keputusan itu disambut protes keras dari kubu Putra Jaya, tetapi mayoritas penonton menilai hukuman tersebut sudah sepantasnya.

Baca juga: Hasil Borneo FC vs PSM Makassar 2-1, Pesut Etam Rebut Puncak Klasemen

Kondisi Firman Setelah Insiden

Firman Nugraha mendapat penanganan medis di lapangan sebelum akhirnya ditandu keluar. Di media sosial resmi Perseta, Firman kemudian membagikan kondisi dadanya yang terlihat memar dan mengaku masih merasakan nyeri hebat.

Dalam sebuah video, Firman menyebut bahwa pelaku memang sempat meminta maaf, namun menurutnya tidak terlihat adanya itikad baik. Karena rasa sakit di dada tidak kunjung mereda, Firman akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.

Kabar ini langsung memicu simpati publik. Banyak warganet mendoakan kesembuhan Firman dan mengecam keras tindakan yang terjadi di lapangan Liga 4 Jatim tersebut.

Viral di Media Sosial dan Reaksi Netizen

Liga 4 Jatim
Sumber: Instagram.com/emosijiwakucom

Tak butuh waktu lama, rekaman video tendangan kungfu itu menyebar luas di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, hingga grup WhatsApp komunitas sepak bola. Dalam hitungan jam, ribuan komentar bermunculan.

Sebagian besar publik menilai insiden ini mencederai esensi sepak bola. Liga 4 memang berada di kasta bawah, namun tetap berada di bawah naungan resmi PSSI. Karena itu, standar sportivitas seharusnya tetap dijaga, bukan malah dinodai oleh aksi brutal.

Tak sedikit pula yang menyoroti pentingnya pembinaan mental di level akar rumput. Banyak pemain muda yang belum mampu mengontrol emosi saat tertinggal skor, sehingga berpotensi melakukan pelanggaran berbahaya.

Skor Akhir Tak Lagi Jadi Fokus

Melansir dari Kompas, Perseta Tulungagung tampil luar biasa dan menutup laga dengan kemenangan besar 7-2 atas Putra Jaya Pasuruan. 

Namun hasil tersebut nyaris tak mendapat sorotan karena publik lebih terpaku pada insiden yang terjadi di menit ke-71.

Kemenangan yang seharusnya dirayakan justru terasa hambar. Para pemain Perseta pun terlihat lebih memilih memastikan kondisi Firman baik daripada menikmati euforia kemenangan.

Baca juga: Cek Prediksi Persik vs Persib Malam Ini Siapa Bakal Menang

Teguran Keras untuk Sepak Bola Akar Rumput

Insiden tendangan kungfu Liga 4 Jatim ini menjadi cermin bagi sepak bola Indonesia, terutama di level kompetisi amatir. Liga 4 bukan sekadar ajang mencari prestasi, tetapi juga ruang pembentukan karakter pemain.

Tanpa pembinaan mental yang baik, pertandingan bisa berubah menjadi ajang pelampiasan emosi. Padahal, di sinilah para pemain muda belajar memahami arti sportivitas, menghargai lawan, dan mengendalikan tekanan.

PSSI Jawa Timur serta penyelenggara kompetisi diharapkan dapat menjadikan kasus ini sebagai momentum evaluasi. Bukan hanya soal sanksi kepada pelaku, tetapi juga soal edukasi berkelanjutan kepada seluruh klub peserta.

Fair Play Harus Jadi Pondasi

Sepak bola tidak hanya tentang mencetak gol atau memenangkan pertandingan. Ia juga tentang bagaimana pemain bersikap saat tertinggal, saat wasit membuat keputusan yang tidak menguntungkan, atau saat emosi memuncak.

Peristiwa ini menegaskan bahwa fair play bukan sekadar slogan. Ia harus menjadi pondasi yang tertanam kuat, bahkan sejak kompetisi level terbawah seperti Liga 4 Jatim.

Kasus Firman Nugraha yang berakhir di rumah sakit menjadi pengingat pahit bahwa satu keputusan emosional di lapangan bisa membawa dampak serius, bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi citra sepak bola Indonesia secara keseluruhan.