
Tiga talenta muda dari skuad Timnas Indonesia U-17 menunjukkan kualitas luar biasa selama perjalanan mereka di Piala Dunia U-17 2025.
Meski langkah Garuda Muda harus terhenti di fase grup, performa individu sejumlah pemain meninggalkan kesan mendalam.
Mereka tidak hanya tampil berani di panggung dunia, tetapi juga menegaskan bahwa masa depan sepak bola Indonesia sedang dipersiapkan dengan serius.
Siapa saja mereka? Yuk simak!
1. Zahaby Gholy

Nama Zahaby Gholy makin sering disebut publik sepak bola nasional. Winger muda Persija Jakarta ini tampil tajam dan konsisten di lini depan Timnas U-17.
Pada laga melawan Zambia, Zahaby mencetak gol pembuka yang sempat membawa asa bagi Garuda Muda. Kecepatan, kontrol bola, dan kemampuan duel satu lawan satu menjadi senjata utamanya di sektor sayap.
Menariknya, pada musim 2024/2025 Zahaby sudah menembus tim senior Persija Jakarta dengan torehan 17 penampilan dan 5 gol di Liga 1.
Ia juga dipercaya tampil di sejumlah laga uji coba internasional bersama Timnas U-20, menunjukkan progres yang cepat di usia baru 17 tahun.
Jika konsistensi ini terjaga, Zahaby berpeluang besar menjadi salah satu winger lokal paling menjanjikan di Indonesia dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Klub luar negeri mulai memantau perkembangannya, yang artinya membuktikan adanya potensi besar yang ia miliki.
Baca juga: 3 Pemain Diaspora yang Curi Perhatian di Latihan Timnas U-22
2. Evandra Florasta

Evandra Florasta menjadi simbol ketenangan di lini tengah Timnas Indonesia U-17. Berposisi sebagai gelandang bertahan, Evandra punya visi bermain dan kontrol tempo yang matang, seolah jauh lebih tua dari usianya yang baru 17 tahun.
Dalam ajang Piala Dunia U-17 2025, ia selalu jadi pilihan utama pelatih Nova Arianto berkat kemampuan membaca permainan dan akurasi umpannya.
Evandra juga mencatat prestasi penting pada Piala Asia U-17 2025, ketika ia mencetak gol tunggal kemenangan 1-0 atas Korea Selatan U-17.
Tidak berhenti di situ, ia kini rutin dipanggil ke Timnas U-20 asuhan Indra Sjafri, menjadikannya satu dari sedikit pemain yang dipercaya bermain di dua kelompok umur berbeda.
Dengan pengalaman di level internasional dan mentalitas kepemimpinan yang kuat, Evandra berpotensi menjadi gelandang masa depan Indonesia.
Ia sering dibandingkan dengan Marc Klok karena gaya bermainnya yang tenang namun efektif, tetapi dengan energi dan mobilitas yang lebih tinggi.
3. Mathew Baker

Di jantung pertahanan, nama Mathew Baker muncul sebagai tembok muda yang tenang dan disiplin.
Pemain berdarah Indonesia-Australia ini mampu bermain sebagai bek tengah maupun bek kiri, memberi fleksibilitas taktik yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Di Piala Dunia U-17 2025, Baker tampil penuh di tiga laga fase grup dan menjadi salah satu pemain paling stabil dalam menjaga area belakang.
Pada akhir September 2025, kabar besar datang ketika Melbourne City FC resmi mengontrak Mathew Baker dengan durasi tiga tahun.
Di usia 16 tahun, ia sudah menembus skuad utama klub besar A-League tersebut, sebuah pencapaian luar biasa bagi pemain muda asal Asia Tenggara.
Meski lahir di Melbourne, Baker dengan tegas memilih membela Indonesia, mengikuti jejak sejumlah pemain diaspora lain yang memperkuat Garuda Muda.
Pengalaman berlatih dan bermain di lingkungan profesional Australia membuat perkembangannya pesat, terutama dalam hal positioning dan duel udara.
Jika federasi mampu menjaga hubungan baik dengan klubnya, Baker bisa menjadi bagian penting dalam proyek regenerasi lini belakang Timnas Indonesia senior beberapa tahun mendatang.
Baca juga: Profil Mike Rajasa, Kiper Masa Depan Timnas Indonesia U-17 Berdarah Mamasa
Tanda-Tanda Cerah di Langit Garuda Muda
Tiga nama di atas membuktikan bahwa proyek pembinaan pemain muda mulai menunjukkan hasil nyata.
Timnas Indonesia U-17 tidak lagi sekadar ajang pembelajaran, tetapi juga wadah pembuktian bagi talenta yang siap naik kelas.
Nova Arianto sebagai pelatih memainkan peran penting dalam proses ini, menanamkan mental bertanding yang kuat dan disiplin taktik sejak usia dini.
Keberadaan pemain seperti Zahaby, Evandra, dan Baker menunjukkan bahwa Indonesia kini punya fondasi regenerasi yang menjanjikan.
Mereka mewakili arah baru sepak bola nasional, generasi muda yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga siap bersaing dengan kualitas dan mentalitas modern.
Mereka mungkin masih berusia belasan tahun, tetapi performa di 2025 menjadi bukti nyata bahwa masa depan Timnas Indonesia ada di tangan yang tepat.
Bila dibina dengan benar dan diberi menit bermain reguler, bukan mustahil publik sepak bola Tanah Air akan melihat salah satu dari mereka tampil di Piala Asia senior bahkan Kualifikasi Piala Dunia berikutnya.
Tiga pemain muda Timnas Indonesia U-17 ini adalah simbol bahwa perjalanan panjang sepak bola Indonesia menuju level Asia sedang dimulai dengan langkah yang benar.








